Semenjak masuk usia SMP, 17 Agustus selalu menjadi hari yang sakral.
Kami, anak2 Pramuka di salah satu SMP di pelosok Sumedang sudah terbiasa menjadi anak anak paling sibuk di tanggal 17 Agustus.
Bagi kami, kalo liat bendera merah putih jatoh itu udah jadi aib besar, dosa besar banget dan merasa bersalah banget.
17 Agustus adalah hajatan rutin tahunan. Kami membantu guru guru nyiapin panggung acara agustusan se Kecamatan, nyiapin peserta paduan suara, kadang harus cosplay jadi anak PMR juga (karena belum ada PMR di sekolah waktu itu). 14 Agustus nya upacara Pramuka, lanjut jadi hari hari yang sibuk sampai tanggal 17 Agustus nya.
Masuk ke usia SMA pun sama. Masih aktif di organisasi pramuka sekolah, ditambah aktif di unit Protokol Kwarcab Sumedang dan juga Dkc Sumedang tanggal 14 Agustus udah mulai sibuk jadi panitia inti ulang tahun Pramuka tingkat Kabupaten.
Masuk malam 17, mulai jadi tim pengamanan peserta pawai lampion dari sekolah, sampai diundang untuk ikut upacara malam renungan di taman makam pahlawan Cimayor Sumedang tepat jam 12 malam bersama jajaran Bupati dan para Muspida Sumedang, dan tentu besoknya harus ikut upacara bendera tingkat Kabupaten dan ribuan peserta kain perwakilan dari dinas, kecamatan, dan warga se Kabupaten Sumedang
Sampai saat ini, alhamdulillah 17 Agustus bagi kami masih sakral.
Dikaruniai Istri, yang sama sama mantan anggota pramuka dan paskibra, punya jiwa nasionalisme dan patriotisme yang sama. suka sengaja nyari momen untuk liat upacara pengibaran ataupun penurunan bendera terdekat, sengaja dateng ke Alun alun Ujungberung utk liat dan ikut pengibaran bendera, atau dateng ke lapangan Gasibu untuk lihat upacara dari kejauhan (karena bukan tamu undangan).
Dirgahayu Indonesia.
Di hari yang sakral ini, 17 Agustus 2025 kami turut merayakan dan mendoakan kebaikan untuk Indonesia
—
Btw, ada yang tau kenapa ceritanya masa SMP dan SMA tapi fotonya pake seragam SD?